Rabu, 03 Maret 2010

BANK & LEMBAGA KEUANGAN 2

ANNISA PRAWIDYA

10208158

2EA01


BAB I

PENDAHULUAN


1.1 latar belakang masalah

Perasuransian adalah istilah hukum (legal term) yang dipakai dalam perundang-undangan dan perusahaan peasuransian. Istilah perasuransian berasal kata “asuransi” yang berarti pertanggungan atau perlindungan atas suatu objek dari ancaman bahaya yang menimbulkan kerugian. Dalam pengertian “perasuransian” selalu meliputi dua jenis kegiatan, yaitu usaha asuransi dan usaha penunjang usaha asuransi. Perusahaan perasuransian selalu meliputi perusahaan asuransi dan penunjang asuransi.

Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi. Usaha asuransi adalah usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang.

Pengertian Asuransi bila di tinjau dari segi hukum merupakan asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih dimana pihak tertanggung mengikat diri kepada penanggung, dengan menerima premi-premi Asuransi untuk memberi penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang di harapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan di derita tertanggung karena suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberi pembayaran atas meninggal atau hidupnya seseorang yang di pertanggungkan.

Kata asuransi berasal dari bahasa Inggris, insurance, dan secara aspek hukum telah dituangkan dalam Kitab Undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 246, "Asuransi adalah suatu perjanjian dimana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang taktentu."

.Selain dalam KUHD pasal 246, juga dalam Undang - undang asuransi No. 2 tahun 1992 pasal 1 disebutkan Äsuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu peristiwa pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Pengertian lain, seperti dari Wirjono Prodjodikoro dalam bukunya Hukum asuransi di Indonesia memberi pengertian asuransi sebagai berikut : "suatu persetujuan dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin, untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin, karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas”.

Robert I. Mehr dan Emerson Cammack, dalam bukunyaPrinciples of Insurance menyatakan bahwa suatu pengalihan risiko (transfer of risk) disebut asuransi.

D.S. Hansell, dalam bukunya Elements of Insurance menyatakan bahwa asuransi selalu berkaitan dengan risiko (Insurance is to do with risk)

Dalam asuransi konvensional perusahaan asuransi disebut Penanggung, sedangkan orang yang membeli produk Asuransi disebut Tertanggung atau Pemegang Polis, Tertanggung membayar sejumlah uang yang disebut premi untuk membeli produk yang disediakan oleh perusahaan asuransi . Premi asuransi yang dibayarkan oleh Tertanggung menjadi pendapatan perusahaan Asuransi, dengan kata lain terjadi perpindahan kepemilikan dana premi dari Tertanggung kepada Perusahaan Asuransi. Bila Tertanggung mengalami risiko sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak asuransi, maka Perusahaan Asuransi harus membayar sejumlah dana yang disebut Uang Pertanggungan kepada Tertangggung atau yang berhak menerimanya. Sebaliknya bila sampai akhir masa kontrak Tertanggung tidak mengalami risiko yang
diperjanjikan maka kontrak Asuransi berakhir maka semua hak dan kewajiban kedua belah pihak berakhir. Dari proses diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi perpindahan risiko financial yang dalam istilah asuransi disebut dengan transfer of risk dari Tertanggung kepada Penanggung.

Contoh, ketika seseorang membeli polis asuransi kebakaran untuk rumah tinggal dia akan membayar uang (premi) yang telah ditentukan oleh perusahaan asuransi, disaat yang sama perusahaan asuransi akan menanggung risiko finansial bila terjadi kebakaran atas rumah tinggal tersebut. Contoh lain dalam asuransi jiwa, ketika seseorang membeli asuransi kematian (term insuransce) dengan jangka waktu perjanjian 5 (lima) tahun dengan uang pertanggungan 100 juta rupiah, maka dia harus membayar premi yang telah ditentukan oleh perusahaan asuransi (misal 500 ribu rupiah) per tahun, artinya bila tertanggung meninggal dunia dalam masa perjanjian diatas, maka ahli waris atau orang yang ditunjuk akan memperoleh uang dari perusahaan asuransi sebesar 100 juta, namun bila peserta hidup sampai akhir masa perjanjian maka dia tidak akan memperoleh apapun.

Ditinjau dari sudut syariah, contoh transaksi yang terjadi diatas dapat dikategorikan sebagai akad tabaduli (pertukaran atau jual beli), namun cacat karena ada unsur gharar (ketidakjelasan), yaitu tidak jelas kapan pemegang polis akan mendapatkan uang pertanggungan karena dikaitkan dengan musibah seseorang (bisa tahun pertama, kedua atau tidak sama sekali karena masih hidup di akhir masa perjanjian). Ketika unsur gharar terjadi maka terdapat juga unsur maisir (perjudian), karena dari transaksi diatas apabila terjadi klaim, perusahaan asuransi akan membayar uang pertanggungan kepada peserta jauh lebih besar dibanding dari premi yang diberikan oleh peserta tersebut, juga sebaliknya bila peserta tidak mengalami risiko yang diperjanjikan, maka dia akan kehilangan semua premi yang telah dibayarnya.

Banyak masyarakat yang kurang memahai arti dari asuransi. Jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi adalah berupa proteksi akibat berbagai risiko yang mungkin terjadi. Akan tetapi sekarang ini dengan semakin berkembangnya produk asuransi serta kerja sama perusahaan asuransi dengan perusahaan di sektor lain seperti perbankan dan sekuritas, maka pengertian asuransi menjadi lebih luas bukan hanya sebagai sarana proteksi, tetapi juga sebagai tempat berinvestasi.


1.2 Rumusan masalah

perjanjian asuransi adalah suatu perjanjian peruntungan. Kalau kejadian sebelumnya sudah terang akan terjadi atau si mempertanggungkan tidak turut serta berusaha supaya kejadian itu tidak terjadi atau dengan sengaja berusaha supaya kejadian itu datang, maka bagi asurator tidak ada kewajiban untuk melakukan kewajiban.


1.3 Tujuan penulisan makalah

1. Untuk memberi pengertian yang jelas tentang pengertian asuransi kerugian dalam masyarakat.

2. Untuk mengetahui dan memberi penjelasan tentang unsur-unsur yang terdapat dalam suatu asuransi.

3. Untuk mengetahui hal-hal mengenai asuransi kerugian yang diatur dalam KUHD


BAB II

PEMBAHASAN


2.1 PENGERTIAN ASURANSI

Usaha perasuransian merupakan salah satu bentuk lembaga keuangan bukan bank yang menjanjikan perlindungan kepada pihak tertanggung (pihak yang mengasuransikan sesuatu) karena apabila terjadi sesuatu dengan yang diasuransikan tersebut di masa mendatang, pihak tertanggung akan memperoleh uang untuk mengganti (mengurangi) kerugian yang terjadi.

Dalam pelaksanaan pembagunan, banyak kendala dan hambatan yang dihadapi. Salah satunya adalah yang berkaitan dengan risiko yang dapat menganggu hasil pembangunan yang telah dicapai. Usaha perasuransian dibutuhkan untuk menampung segala sesuatu yang berkaitan dengan risiko yang akan menimbulkan kerugian.

Jasa asuransi dalam tata kehidupan ekonomi rumah tangga dibutuhkan dalam menghadapi risiko keuangan yang timbul sebagai akibat datangnya kematian pada anggota ekonomi rumah tangga yang menimbulkan masalah bagi yang ditinggalkan dan risiko atas harta benda yang dimiliki. Jasa asuransi dalam dunia bisnis dibutuhkan dalam mengahadapi berbagai risiko yang secara rasional dapat menganggu kesinambungan kegiatan usaha bisnis tersebut. Jasa asuransi akan semakin berkembang apabila para pelaku ekonomi mikro (rumah tangga) maupun para pelaku ekonomi makro (dunia bisnis dan pemerintah) mempunyai keinginan yang meningkat untuk mengurangi kemungkinan timbulnya kerugian yang belum diketahui secara pasti, di masa datang melalui perasuransian.

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, dengan tujuan untuk memberikan:

1. Penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan.

2. Tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti.

3. Suatu pembayaran uang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Dalam asuransi terkandung kemauan untuk menetapkan risiko kecil yang sudah pasti untuk menanggung risiko besar yang, belum pasti, atau terkandung kesediaan untuk membayar risiko yang kecil pada masa sekarang agar dapat menghadapi risiko besar yang mungkin terjadi pada masa mendatang dipindahkan kepada perusahaan asuransi.


2.2 OBYEK ASURANSI

Obyek asuransi adalah benda dan jasa, jiwa dan raga kesehatan manusia, tanggung jawab hukum, serta semua kepentingan lainnya yang dapat hilang, rusak, rugi, dan berkurang nilainya.


2.3 FUNGSI ASURANSI

Usaha asuransi memiliki dua fungsi utama, yaitu :

1. Menanggulangi risiko yang dihadapi anggota masyarakat

2. Menghimpun dana masyarakat


2.4 TUJUAN ASURANSI

Mengurangi risiko yang sudah ada dalam masyarakat dengan cara mempertanggungkan pada perusahaanasuransi. Risiko yang ada dalam masyarakat akan ditanggung perusahaan asuransi.

1. Dalam pertanggungan dapat dilakukan pencegahan kerugian yang akan memberikan keuntungan tertentu yang berupa pengurangan kerugian dan pengurangan biaya yang menyangkut pertanggungan tersebut.

2. Pencegahan dan perlindungan untuk memperkecil kerugian yang terjadi dapat berupa pengeliminiran sebab-sebab yang dapat menimbulkan kerugian, perlindungan produk atau orang yang akan dirugikan, pengurangan kerugian, dan perlindungan agar produk yang telah rusak tidak semakin rusak.

3. Memberikan keuntungan tertentu pada masyarakat yang mengikuti asuransi karena dengan mengetahui besarnya risiko yang timbul dapat diketahui besarnya kerugian yang diderita (diukur).


2.5 SASARAN ASURANSI

Sasaran asuransi adalah pelaku ekonomi mikro (rumah tangga) maupun pelaku ekonomi makro (dunia bisnis dan pemerintah) yang mempunyai keinginan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya kerugian yang belum diketahui secara pasti di masa mendatang melalui usaha peransuransian.

Dari permusan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, orang bersedia membayar kerugian yang sedikit untuk masa sekarang, agar bisa menghadapi kerugian-kerugian besar yang mungkin terjadi pada waktu mendatang. Umpamanya:

a. Dalam asuransi kebakaran, seseorang mengasuransikan rumahnya kepada perusahaan asuransi. Dalam hal ini orang tersebut membayar premi terhadap perusahaan asuransi. Bilamana terjadi kebakaran, perusahaan akan mengganti kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kebakaran tersebut.

b. Pada asuransi laut (marine insurance) ialah dengan mempertanggungkan kapal,, muatan (cargo) dan lain-lain.

Jadi disini ternyata bahwa, segala kerugian yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang, kita pindahkan (shift) kepada perusahaan asuransi.

Bilamana kita melihat cabang-cabang Peusahaan Asuransi yang ada dinegara kita, maka bentuk-bentuk asuransi dapat digolonggkan sebagai berikut:

1. Asuransi Kerugian (Asuransi Umum), yaitu mengenai hak milik, kebakaran, dan lain-lain.

2. Auransi Varia (marine insurance, asuransi kecelakaan, asuransi mobil dan pencurian).

3. Asuransi Jiwa (life insurance) yaitu yang menyangkut kematian, sakit, cacat, dan lain-lain.

John H. Magee dalam bukunya, General Insurance mengklasifikasikan asuransi sebagai berikut.

1. Jaminan Sosial (Social insurance)

Jaminan sosial merupakan “asuransi wajib”, karena itu setiap orang atau penduduk harus memilikinya. Jaminan ini bertujuan supaya setiap orang mempunyai jaminan untuk hari tuanya (old age). Bentuk ini dilaksanakan dengan “paksa”, misalnya dengan memotong gaji pegawai sekian persen setiap bulan (umpamanya 10%). Contoh jaminan sosial yang lain ialah, jika seseorang sakit harus dijamin pengobatannya, kecelakaan, invalid, mencapai umur ketuaan, atau hal-hal yang menyebabkan timbulnya pengangguran.

2. Asuransi Sukarela (Voluntary Insurance)

Bentuk asuransi ini dijalankan secara sukarela, jadi tidak dengan paksaan seperti jaminan sosial. Jadi setiap orang bisa mempunyai atau tidak mempunyai asuransi sukarela ini.

Asuransi sukarela dapat dibagi dalam dua jenis, yakni :

1.) Government Insurance, yaitu asuransi yang dijalankan oleh pemerintah atau negara, misalnya: jaminan yang diberikan kepada prajurit yang cacat sewaktu peperangan (di Indonesia misalnya jaminan bagi kaum veteran).

2.) Commercial Insurance, yakni asuransi yang bertujuan untuk melindungi seseorang atau keluarga serta perusahaan dari resiko-resiko yang bisa mendatangkan kerugian. Tujuan perusahaan asuransi di sini ialah, komersial dan dengan motif keuntungan (profit motive).

Commercial Insurance dapat digolonggkan pula kepada :

a. Asuransi Jiwa (Personal Life Insurance)

Asuransi jiwa bertujuan untuk memberikan jaminan kepada seseorang atau keluarga yang disebabkan oleh kematian, kecelakaan, serta sakit. Contoh perusahaan Asuransi Jiwa yang ada di Indonesia :

- PT. Asuransi Jiwas Raya

- Asuransi Jiwa Dharma Nasional

- Asuransi Jiwa Bumi Putera 1912, dan lain-lain.

b. Asuransi Kerugian (Property Insurance)

Bentuk ini, sama dengan Asuransi Umum di Indonesia, bertujuan memberikan jaminan kerugian yang disebabkan oleh kebakaran, pencurian, asuransi laut, dan lain-lain. Contohnya :

- PT. Asuransi Umum Indonesia

- PT. Asuransi Kerugian, dan sebagainya.

Dari pembagian tersebut di atas, kita akan menitik beratkan kepada asuransi sukarela, ini tidak berarti bahwa jaminan sosial tidak usah kita ketahui atau pelajari. Jaminan sosial penting dipahami, mengingat perkembangan struktur perekonomian kita akhir-akhir ini (jaminan yang diberikan kepada pihak buruh, pegawai negeri).

Sebelumnya telah dikemukakan bahwa, kerugian yang mungkin timbul pada masa yang akan datang dapat dialihkan kepada perusahaan asuransi. Jadi resiko atau kerugian yang mungkin timbul, dipindahkan dan menjadi beban perusahaan asuransi.

Sekarang marilah kita lihat apa yang dimaksudkan dengan resiko, kemungkinan (probability) rugi dalam asuransi.


2.6 RISIKO (Risk)

Risiko adalah ketidak tentuan atau uncertainty yang mungkin melahirkan kerugian (loss). Unsur ketidak tentuan ini bisa mendatangkan kerugian dalam asuransi. Ketidaktentuan dapat kita bagi atas :

1. Ketidaktentuan ekonomi (economic uncertainty), yaitu kejadian yang timbul sebagai akibat dari perubahan sikap konsumen, umpama perubahan selea atau minat konsumen atau terjadinya perubahan pada harga teknologi,atau didapatnya penemuan baru, dan lain sebgainya.

2. Ketidaktentuan disebabkan oleh alam (uncertainty of nature) misal kebakaran, badai, topan, banjir, dan lain-lain.

3. Ketidaktentuan yang disebabkan oleh perilaku manusia (human uncertainty), umpamanya peperangan, pencurian, perampokan dan pembunuhan.

Diantara ketiga jenis ketidaktentuaan di atas, bisa dipertanggungkan ialah ketidaktentuan alam dan manusia. Sedangkan yang pertama tidak bisa diasuransikan karena bersifat spekulatif (unsur ekonomis) dan sulit untuk diukur keparahannya (severity).

Risiko dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Speculative risks, yaitu resiko yang bersifat spekulatif yang bisa mendatangkan rugi atau laba. Misal : seorang pedagang bisa untung atau rugi dalam usahanya.

2. Pure risks, yanitu risiko yang selalu menyebabkan kerugian. Perusahaan Asuransi beroperasi dalam bidang pure risk (kematian, kapal tenggelam, kebakaran dan sebagainya.


2.7 PERIL

Peril ialah segala sesuatu yang bisa menimbulkan kerugian. Antara peril dan risk rapat sekali hubungannya.


2.8 HAZARD

Hazard ialah suatu keadaan yang menambah kemungkinan terjadinya peril (kerugian), atau disebut pula “hazard is a condition that increases the chance of loss arising fom peril”.

Mengenai Hazard dapat kita bagi pula atas :

1. Physical Hazard, yaitu hazard yang berbentuk fisik dan mengandung unsur objektif, misal: kerusakan secara fisik karena terbakar, tabrakan, dan seterusnya.

2. Moral Hazard, yaitu hazard yang menyangkut diri seseorang dan mengandung unsur subjektif. Misal dengan sengaja menubruk mobil ke pohon, agar bisa mendaat ganti kerugian.

3. Morale Hazard, adalah hazard yang ditimbulkan oleh tindakan yang kurang hati-hati sehingga menimbulkan kerugian. Umpamanya, seseorang mengendarai mobil terlalu cepat pada waktu hujan lebat. Tindakan ini kurang hati-hati sebab bisa mendatangkan kecelakaan. Jadi hazard dapat menimbulkan kerugian untuk pertanggungan.

Dibawah ini bisa kita lihat pembagian hazard yang dihubungkan dengan resiko

1) Risiko Pribadi dan Risiko Keluarga (Personal & Family Risks)

Personal dan family risks dihubungkan dengan “Those of loss of income and property” (kehilangan pendapatan dan hak milik).

a) Kehilangan pendapatan (loss income)

Seseorang atau keluarga bisa kehilangan pendapatannya disebabkan :

· Kematian (death). Kematian menimbulkan kehilangan pendapatan pada seseorang atau kelurga tertentu.

· Cacat permanen (permanent disability). Artinya seseorang tidak mampu lagi untuk mencari penghasilan; misalnya karena sakit, kecelakaan, dan lain sebagainya.

· Cacat sementara (temporary disability). Untuk sementara tidak bisa mencari nafkah karena sakit.

· Pengangguran (unemployment). Seseorang yang nganggur mengakibatkan kehilangan penghasilan.

b) Kerugian hak milik (loss of property)

Kerugian hak milik bisa disebabkan hal-hal berikut :

· Kebakaran (fire)

· Kilat (lightning)

· Agin badai (windstorm)

· Air bah (water leakage)

· Gempa bumi (earthquakes)

· Kaca pecah (glass breakage)

· Ledakan (explotion)

· Hura hara (riot and civil commotion)

· Perampokan, pencurian (burglary, theft, or robbery)

· Pemalsuan tanda tangan (forgery)

· Penggelapan (fraud)

· Hujan es (hail)

2) Risiko Perusahaan (Business Risks)

Risiko yang dihadai perusahaan terdiri dari :

a) Perils of transportation of good on land sea. Keugian yang terjadi pada waktu mengangkut barang-barang di darat atau di laut. Pada umumnya ditutup dengan “Asuransi Pengangkutan”. Untuk angkutan laut diasuransikan kepada “Marine Insurance”.

b) Hail (Angin panas), frost (udara rendah) dan karas lain yang merusak terhadap tanaman. Contoh tersebut diatas negara kita belum begitu berkembang, yang ada hanya asuransi terhadap hasil-hasil pertanian (misalnya asuransi tebu).

c) Dishonesty of employees (Ketidakjujuran pegawai). Umpamanya: melarikan uang, korupsi, serta penggelapan.

d) Failure of contracts to fulfill contract (Kegagalan dalam memenuhi kontrak). Contoh: pemborong harus memenuhi suatu kontrak. Jika pekerjaan tidak selesai pada waktunya maka perusahaan meminta ganti kerugian pada perusahaan asuransi (denda). Perusahaan asuransi akan membayar denda tersebut (prosentase tertentu).

e) Strikes (Pemogokan), menyebabkan kerugian terhadap peusahaan.

Kerugian yang terjadi yang disebabkan oleh kehilangan pendapatan dan milik bisa dipertanggungkan. Bagi seseorang atau keluarga yang mengalami resiko akibat kehilangan penghasilan, bisa diperkecil dengan cara asuransi.

Contoh :

· Kematian (death)

Kematian disebabkan adanya resiko perseorangan dan famili, orang berusaha menutupi resiko tersebut denga membeli asuransi jiwa.

· Tidak mampu selamanya (permanenet disability)

Ini ditutup dengan asuransi sakit atau kecelakaan. Demikian pula mengenai temporary disability bisa ditutupi dengan asuransi sakit

· Pengangguran (unemployement)

Bila terjadi penggangguran iasanya pertanggungan dijamin oleh negara. Ini menjadi resiko pemerintah, pada negara-negara yang telah maju. Hak milik (property) diasuransikan pada “Asuransi Kewrugian” atau Asuransi Umum.


2.9 ASURANSI DAN PERJUDIAN (INSURANCE vs GAMBLING)

Asuransi bertujuan untuk memindahkan resiko individu kepada perusahaan asuransi. Tujuan pertanggungan terutama untuk menggurangi resiko-resiko yang kita temui dalam masyarakat.

Sedangkan gambling (Perjudian) tidak mengurangi resiko melainkan menciptakan resiko. Akan tetapi, sungguhpun demikian, antara asuransi dan perjudian terdapat persamaan dalam hal-hal tertentu.

Pada asuransi dan perjudian, besarnya jumlah uang yang akan kiuta terima tidak sama besarnya dengan uang yang kita keluarkan pada saat ini.

Disamping itu terdapat banyak perbedaan, yakni :

a. Asuransi

1. Asuransi terutama bertujuan untuk mengurangi risiko yangt sudah ada dalam masyarakat, dengan jalan mempertanggungkan pada Perusahaan Asuransi (reducing of risks)

2. Asuransi mempunyai sifat sosial terhadap masyarakat, berarti dari risiko-risiko yang ada ditanggung oleh penisahaan perusahaan. Dengan adanya asuransi akan memberikan keuntungan-keuntungan tertentu pada masyarakat umunya (jaminan hari tua, pendidikan anak-anak dan sebagainya).

3. Besarnya risiko (Kerugian) yang timbul bisa kita ketahui mengenai kerugian yang diderita dalam arti diukur (degree of risks) atau bisa kitan tentukan risiko tersebut.

4. Kontrak asuransi dibuat secara tertulis dan mengikat pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.

b. Perjudian

1. Pada perjudian mula-mula resiko belum ada, setelah perjudian terjadi timbulah resiko (kalah). Artinya risiko ang tadinya belum ada sekarang menjadi ada (creating of risks).

2. Perjudian bersifat “tidak sosial”, bisa mengacaukan rumah tangga dan keuangan rumah tangga (a-moral). Degree of risks pada gambling sulit untuk diketahui (diukur).

3. Kontrak pada gambling tidak mengikat, dan tidak tertulis (lisan).


2.10 PENCEGAHAN TERJADINYA KERUGIAN (PREVENTION OF LOSS)

Dalam pertanggunga kita mengenal pula apa yang disebut “prevention of loss” (pencegahan kerugian). Dengan diadakannya pencegahan akan memberikan keuntungan-keuntungan tertentu yakni :

a. Menuranggi atau memperkecil kerugian (reducing of loss)

b. Mengurangi biaya-biaya (cost) yang menyangkut dengan pertanggungan tersebut (reduction cost of insurance). Bilamana terjadi kebakaran akan menyebabkan kerugian. Oleh sebab itu lebih baik diadakan pencegahan agar bisa mengurangi bahaya-bahaya dari api tersebut. Misalnya: membuat sebuah gedung pabrik yang tahan terhadap api sehingga tidak mudah terbakar dan sebagainya.


2.11 JENIS PENCEGAHAN DAN USAHA PROTEKSI

Pencegahan dan proteksi bertujuan untuk memperkecil kerugian yang terjadi. Preventive dan protective efforts terbagi dalam :

1. Truly preventive

Pencegahan disini bertujuan untuk menggelimir sebab-sebab yang bisa menimbulkan kerugian (cause of loss) misalnya: pada “Help Insurance” untuk usaha mengurangi risiko, bisa dilakukan dengan mendirikan poliklinik-poliklinik dan Rumah Sakit.

2. Protective (Quasi Preventive)

Tujuannya adalah untuk melindungi barang-barang atau orang yang akan dirugikan (the purpose of which is to protect thing or person subject to damage).

3. Minimizing (mengurangi kerugian)

Bila terjadi kerugian diusahakan untuk seminumum mungkin (the purpose of which is to limit damage as small as compass as possible).

4. Salvaging

Tujuan salvage ialah supaya barang-barang yang telah rusak dilindungi agar jangan bertambah rusak (the purpose of which is to preserve as much as posible of the value of damage property).

Contoh : Pada Asuransi Laut, bilamana sebuah kapa dipertanggungkan rusak, diusahakan dilindungi jangan sampai kerusakan lebih lanjut. Maksudnya: agar kapal itu jangan bertambah rusak, semua biaya untuk melindungi kapal itu ditanggung oleh Perusahaan Asuransi.

Antara prventive dan protective efforts terdapat sedikit perbedaan. Pada preventive betul-betul pencegahan murni. Umpamanya membuat sebuah pabrik yang betul-betul tahan pai, sedangkan pada protective, usaha untuk memperkecil resiko dengan jalan mengadakan percobaan-percobaan dalam laboratorium dan research, misalnya dalam berproduksi supaya barang-barang yang dihasilkan tidak mendatangkan kerugian, diadakanlah percobaan dalam laboratorium.

Bagi negara kita usaha preventive dan protective belum terlaksana sebagaimana mestinya. Sebetulnya unsur preventive itu harus ada, karena penting untuk mengurangi risiko-risiko yang mungkin timbul dalam masyarakat.


2.12 HUKUM JUMLAH BILANGAN YANG BESAR (THE LAW OF LARGE NUMBERS)

Didalam asuransi kita mengenal “law of large numbers”, yaitu hukum mengenai jumlah yang besar. Artinya risiko yang dipertanggungkan harus dalam jumlah besar. Misalnya:

a. Untuk Asuransi Mobil kita mengamati 20.000 unti mobil yang diasuransikan.

b. Pada Asuransi Jiwa, law of large numbers ialah dengan memperhitungkan berapa kemungkinan (probability) dari 15.000 orang yang berumur 25 tahun, bisa mencapai umur 56 tahun. Bilamana telah diketahui bahwa dari sekian jumlah orang umpamanya 14.900 yang bisa mencapai umur 56 tahun, maka ditetapkan premi (penentuan tarif).

Mengenai “kemungkinan” (probability) yang selalu kita temui dalam pertanggungan ialah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari (pengalaman). Faktor probaility ini melekat dalam asuransi. Di bawah ini kita lihat ada dua macam probability :

1. Apriory probability (kemungkinan secara apriori)

Apriory probability yaitu sebuah kejadian yang sudah diketahui sebelumnya. Umpamanya: dalam statistik untuk mengetahui pelemporan mata uang (tossing coins) diperoleh hasil head dan tail. Jika kita anggap mata uang jumlahnya sama dengan 1, dan bilamana mata uang tersebut kita lemparkan ke atas, maka kita akan memperoleh hasil pelemparan sebagai berikut :

P ...... 1/2 (head)

Q ...... 1/2 (tail)

Hasil yang didapat bisa dihitung dengan memakai statistic (probability theory).

2. Emperical probability (kemungkinan berdasarkan empiris)

Emperical probability ialah kejadian-kejadian yang bisa diketahui dari pengalaman (empiris) sehari-hari. Umpamanya: buruh bekerja dalam sebuah pabrik, ditaksir yang mendapat kecelakaan sekian persen/orang setiap bulan tahunnya.

Dalam perusahaan asuransi emperical probability inilah yang banyak digunakan. Contoh dalam Life Insurance; dari 1.000 orang penduduk berumur 20 tahun, berapa orang yang bisa mencapai umur 21 tahun. Data kita kumpulkan dengan memakai statistic (Biro Pusat Statistik), setelah itu kita dapat mencari kemungkinan-kemungkinannya.

Bagi kita yang penting ialah emperical probability dari apriory probability dalam perasuransian. Sebab dengan pengalaman-pengalaman tersebut kita dapat menaksir berapa kemungkinan kerugian untuk masa yang akan datang, dan bisa digunakan sebagai basis untuk penetapan premi polis asuransi (pembuatan tarif).


2.13 FAEDAH ASURANSI

Asuransi banyak kegunannya untuk perseorangan (individu), bagi masyarakat maupun bagi perusahaan. Asuransi ialah “a social device for eliminating or reducing the cost to society of certain types of risk”. Oleh karena dengan adanya asuransi dapat menampung sekian banyak resiko yang kita temui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di bawah ini dikemukakan pandangan Riegel dan Miller, dalam bukunya Insurance Principles and Practises mengenai faedah asuransi :

1) Asuransi menyebabkan atau membuat masyarakat dan perusahaan-perusahaan berada dalam keadaan aman. Dengan membeli asuransi, para pengusaha tau orang-orang akan menjadi tenang jiwanya. Misalnya agar barang-barangnya dalam sebuah pengiriman terhindar dari kerugian yang terjadi (pecah, pencurian, dan sebagainya)., seseorang akan mempertanggungkan barang-barangnya pada perusahaan asuransi (Asuransi Pengiriman Barang).

Dengan membeli asuransi jiwa, kepala keluarga (Bapak) akan merasa tenteran dan tenang dalam menjamin keturunannya di kemudian hari. Jika sang Bapak meninggal atau tidak mampu menacri nafkah untuk anak-anaknya, sudah tersedia jaminan bagi keluarganya.

2) Dengan asuransi efisiensi perusahaan (business efficiency) dapat dipertahankan. Guna menjalankan kelancaran perusahaan (going concern), maka dengan jalannya pertanggungan, resiko dapat dikurangi. Contoh: si A dan B mendirikan perusahaan berbentuk “firma”. Kedua orang tersebut membeli asuransi (Life Insurance). Andaikan salah seorang meninggal dunia (misal si B), dan demi menjaga “efisiensi dan kelancaran perusahaan”, firma dapat hidup terus tanpa dibubarkan. Caranya, si A akan mengambil alih saham si B, disertai pula adanya jaminan sebab si B memiliki asuransi jiwa. Contoh lain misalnya untuk menjaga efisiensi dalam berproduksi, distribusi, dan lain sebagainya.

3) Dengan asuransi terdapat suatu kecenderungan, penarikan biaya akan dilakukan seadil mungkin (the equitable assesment of cost). Maksudnya ialah, ongkos-ongkos asuransi harus adil menurut besar kecilnya resiko yang dipertanggungkan. Umpama pada Asuransi jiwa seorang yang telah tua sekali, asuransinya lebih besar daripada orang yang masih muda. Dalam kontrak tidak ada pihak yang boleh dirugikan.

4) Asuransi sebagai dasar pemberian kredit (insurance serves as a basis of credit). Contoh :

a. Dalam auransi pengangkutan yang berhubungan dengan tata perdagangan internasional. Bila seorang pedagang minta kredit kepada Ban, selain perdagang tersebut memiliki bill of lading, konsumen, dan lain-lain, juga harus memmpunyai “sertifikat asuransi”.

b. Pinjaman hipotik (jangka panjang). Dalam hal ini si pemberi kredit (Bank) menghadapi syarat-syarat apakah si peminta kredit mempunyai asuransi, misalnya saja untuk rumah, kapal, pabrik dan lain-lain dapat digunakan sebagai jaminan kredit. Ban akan memberikan kredit bilaman si peminta mengasuransikan miliknya tersebut.

5) Asuransi merupakan alat penabung (saving). Umpama dalam asuransi jiwa, saat ini kita mengeluarkan uang, sedangkan penggunannya kemudian hari. Namun sayang, pada waktu sekarang pertanggungan jiwa kurang menarik sebab tidak begitu menguntungkan masyarakat (pendapatan masyarakat rendah, keadaan ekonomi tidak stabil terutama akibat merosotnya nilai uang).

6) Asuransi dapat dipandang sebagi suatu sumber pendapatan (earning power). Sumber pendapatan ini didasarkan kepada financing the business. Misalnya mesin-mesin dilihat secara teknis berapa kapasitas produksi yang diberikan oleh mesin tersebut. Di sini kita akan melihat kontribusi produksi dari mesin tersebut, sedangkan pada manusia didasarkan pada sumber pendapatannya, yaitu berapa pendapatan yang diterima tiap-tiap bulannya. Umpamakan: seorang pemimpin puncak (top level management) pendapatannya sekian. Bila dia meninggal dunia perusahaan asuransi akan membayarkan kalau pimpinan tadi dipertanggungkan. Pada umumnya asuransi seperti ini banyak terdapat pada orang-orang penting (keyman), seperti insinyur atom dan lain-lain yang diasuransikan oleh perusahaan bersangkutan.


2.14 PRINSIP ASURANSI ATAU DOKTRIN ASURANSI

1. Insurable Interest

Pada prinsipnya merupakan hak berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan suatu resiko yang berkaitan dengan keuangan, yang diakui sah secara hukum antara tertanggung dengan sesuatu yang dipertanggungkan. Selain itu, suatu yang dipertanggungkan tersebut.

2. Utmost Good Faith

Dalam menetapkan suatu kontrak atau persetujuan harus dilakukan dengan itikad baik dimana tertanggung dan penanggung tidak diperbolehkan menyembunyikan suatu fakta yang dapat menyebabkan timbulnya kerugian bagi pihak lain.

3. Indemnity

Berarti mengembalikan posisi finansil tertanggung setelah terjadinya kerugian tersebut.

4. Proximate Couse

Adalah suatu sebagai aktif, efisiensi yang mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa secara berantai atau berurutan antar intervensi suatu ketentuan lain, diawali dan bekerja dengan aktif dari suatu sumber baru dan independen.

5. Subrogation dan Centribution

Subrogation pada prinsipnya merupakan hak-hak penanggung yang telah memberikan ganti rugi kepada tertanggung untuk menutut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami suatu peristiwa kerugian. Centribution pada dasranya adalah suatu prinsip dimana penanggungjawab berhak mengajak penanggung lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada seorang tertanggung meskipun jumlah tanggungan masing-masing penanggung belum tentu sama besar.


2.15 POLIS ASURANSI

Untuk setiap perjanjian perlu dibuat bukti tertulis atau surat perjanjian antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Bukti tertulis untuk perjanjian asuransi tersebut disebut polis.

Fungsi umum polis adalah :

1. Perjanjian pertanggungan

2. sebagai bukti jaminan dari penanggung kepada tertanggung untuk mengganti kerugian yang mungkin dialami oleh tertanggung akibat peristiwa yang tidak terduga sebelumnya dengan prinsip :

a. Untuk mengembalikan tertanggung kepada kedududukannya semula sebelum mengalami kerugian.

b. Untuk menghindarkan tertanggung dari kebangkrutan.

3. Bukti pembayaran premi asuransi oleh tertanggung kepada penanggung sebagai balas jasa atau jaminan penanggung.

Fungsi polis bagi tertanggung :

1. Sebagai bukti tertulis atau jaminan penanggung untuk mengganti kerugian yang mungkin dideritannya yang ditanggung oleh polis.

2. Sebagai bukti pembayaran premi kepada penanggung.

3. Sebagai bukti otentik untuk menuntut penanggung bilai lalai atau tidak memenuhi jaminannya.

Fungsi polis bagi penanggung adalah :

1. Sebagai bukti atau tanda terima premi asuransi dari tertanggung.

2. Sebagai bukti tertulis atas jaminan yang diberikan kepada tertanggung untuk membayar ganti rugi yang mungkin diderita oleh tertanggung.

3. Sebagi bukti otentik, untuk menolak tuntutan ganti rugi tau klaim bila yang menyebabkan kerugian tidak memenuhi syarat-syarat polis.

Polis asuransi memuat hal-hal sebagai berikut :

1. Nomor polis

2. Nama dan alamat tertangung

3. Uraian risiko

4. Jumlah pertanggungan

5. Jangka waktu pertanggungan

6. Besar premi, bea materai, dan lain-lain

7. Bahaya-bahaya yang dijaminkan

8. Khusus untuk polis pertanggungan kendaraan bermotor ditambah dengan nomor polis, nomor rangka atau chasis, dan nomor mesin kendaraan.


2.16 PREMI ASURANSI

Menurut pengertian umum, premi adalah sesuatu yang diberikan sebagai hadiah atau derma atau suatu pembayaran tambahan diatas pembayaran normal.

Dalam asuransi jiwa yang perlu diperhatikan adalah, penentuan tarif (rate making), karena hal tersebut akan menentukan besarnya premi yang akan diterima. Tarif atau premi yang ditetapkan harus bisa menutupi claim (risiki) serta biaya-biaya asuransi, dan sebagian dari jumlah penerimaan perusahaan (keuntungan).

Dalam penentuan tarif asuransi, ada tiga elemen penting yang harus diperhatikan di dalam mengkalkulasi premi itu, yakni :


2.17 TABEL KEMATIAN (mortality tables)

Daftar tabel kematian berguna untuk mengetahui besarnya claim serta kemungkinan timbulnya kerugian yang dikarenakan kematian, serta meramalkan berapa lama batas waktu (umur) rata-rata seorang bisa hidup.

Secara statistik bisa dihitung, sebab banyak menggunakan data matematis. Jadi yang diartikan dengan tabel kematian ialah : “The mortality tables in used in rate computation as a basis for predicting the probable amount of future claims”.

Untuk melihat contoh tabel tersebut di atas dapat kita lihat seperti apa yang tertera di bawah ini, misalnya untuk menghitung umur rata-rata orang meninggal dalam satu group atau satu daerah tertentu.

Dengan jalan demikian maka ditentukan berapa besarnyatingkat tarif asuransi, dengan mengambil dasar perhitungan rata-rat orang meninggal pada umur 98 tahun. Umumnya tabel yang digunakan terdiri atas klolom/lajur, dan tiap lajur memuat hal-hal sebagai berikut :

1

2

3


4

5































1. Age (umur)

2. Number of Living

3. Deaths each Year

4. Death per 1.000

5. Expections of life

Mortality tables banyak macamnya, di dini kita dapat melihat jenis-jenis tabel kematian yang ada.


2.18 TYPE OF MORTALITY TABLES

1. General Mortality Tables

Tabel ini berdasarkan pada statistik penduduk (population statistic0 yang biasanya dibuat oleh BPS.

2. Basic Mortality Tables

Bentuk ini biasanya didasarkan pada pengalaman masa lampau guna melihat berapa besarnya kematian untuk tahun-tahun sebelumnya. Umumnya cara ini banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asuransi sejenis, umpamanya dalam asuransi jiwa dikerjakan oleh Gabungan Perusahaan Sejenis Asuransi Jiwa dalam menentukan jumlha kematian untuk setiap tahunnya.

3. Select Mortality Tables

Bentuk ini melukiskan tingkat kematian tahun-tahun terakhir di antara satu kelompok dimana kita seleksi antara yang masih hidup.

4. Ultimate Mortality Tables

Pada jenis ultimate melukiskan the rate of mortality at various age for lives beyond the selected period. Dalam penggunaan mortality tables ada standar yang dipakai untuk menghitung jumlah kematian tersebut.

a. Commissioners 1941 Standard Ordinary mortality tables, (CSO 1941) yang lazim digunakan pada asuransi jiwa umumnya.

b. Commissioners 1941 Standard Industrial mortality tables (CSI 1941).

Untuk Indonesia banyak memakai CSO 1941, sedangkan yang kedua belum terlaksana sebab ndustri Life Insurance belum maju di negara kita dewasa ini, belum semaju negara barat.

Di USA. CSI 1941 dipakai oleh Metropolitan Life Insurance Company, di samping menggunakan juga CSO 1941. perusahaan-perusahaan asuransi jiwa di negara kita umumnya memakai dasar untuk menghitung mortality tables dari negara-negara Barat. Sebab sampai saat ini kita belum memiliki sendiri tabel yang sesuai yang seperti dibutuhkan oleh alam Indonesia. Hal ini disesbabkan oleh beberapa faktor-faktor yaitu :

1) Masih kurangnya ahli-ahli asuransi jiwa

2) Asuransi jiwa belum berkembang luas

3) Kurang pengalaman

4) Belum berkembang statistik (terutama yang menyangkut kematian).

Sebelumnya cara yang dipakai untuk menghitung dengan mengambil dasar mortality tables dari negara barat kurang tepat, karena :

a) Secara teorotis bisa dipakai (theoritically), tetapi untuk diaplikasikan sulit karena terbatas waktu hidup orang barat lebih lama jika dibandingkan dengan bangsa Indonesia. Orang barat bisa hidup mencapai rata-rata sampai umur 90 tahun.

b) Penyakit yang dianggap berbahaya oleh barat (misalnya penyakit malaria_ bagi penduduk Indonesia tidak seberapa bahaya, karena Indonesia tahan terhadap penyakit malaria.

c) Standar penghidupan (standard of living) untuk kedua negara banyak perbedaannya. Oleh sebab itu lebih baik kita menggunakan tabel tersendiri, khusus yang sesuai dengan alam Indonesia.

Agar bisa memenuhi syarat tersebut di atas, maka GPS Asuransi Jiwa harus mencari jalan keluar untuk mengatasi persoalan ini, yanitu dengan mengadakan penelitian, angka-angka kematian, penelitian kesehatan, dan lain sebagainya.


2.19 PENERIMAAN BUNGA (Interest)

Untuk penetapan tarif, perhitungan bunga pun harus dikalkulasi di dalamnya. Bunga merupakan sebagian dari keuntungan perusahaan, sebab di dalam pembayaran premi pun unsur bunga ikut dihitung.


2.20 BIAYA-BIAYA ASURANSI

Biaya-biaya asuransi harus ikut dikalkulasi pada penentuan premi/tarif asuransi. Adapun jenis biaya-biaya tersebut terdiri dari beberapa macam, yakni :

a) Biaya penutupan asuransi, yaitu :

1) Biaya komisi, inpeksi

2) Biaya dinas luar

3) Biaya advertensi, reklame, dan sales promotion

4) Biaya pembuatan polis (biaya administrasi, tik, kertas, dan lain-lain)

Perhitungan biaya yaitu presentasinya atau jumlah absolut yang dihitung atas dasar volume yang dipertanggungkan.

b) Biaya pemeliharaan. Umumnya perhitungan biaya ditetapkan berdasarkan jumlah tertentu dari yang diasuransikan.

c) Biaya-biaya lainnya, seperti biaya inkaso dan ekskaso ikut pula diperhitungkan. Umpamanya biaya inkaso: biaya-biaya penagihan.

BAB III

KESIMPULAN


Asuransi merupakan upaya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kemungkinan timbul kerugian akibat terjadi peristiwa yang tidak pasti dan tidak diinginkan. Melalui perjanjian asuransi risiko kemungkinan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian yang mengancam kepentingan tertanggung itu dialihkan kepada perusahaan Asuransi kerugian selaku penanggung. Sebagai imbalannya, tertanggung bersedia membayar sejumlah premi yang telah disepakati. Dengan demikian, tertanggung yang berkepentingan merasa aman dari ancaman kerugian, sebab jika kerugian itu betul-betul terjadi penanggunglah yang akan menggantinya.

Tertanggung sebagai pihak mempunyai kepentingan terterntu dalam kegiatan usaha atau hubungan dengan pihak lain dalam masyarakat. Kepentingan yang dimaksud adalah tanggung jawab akibat perbuatannya terhadap pihak ketiga, misalnya perbuatan yang merugikan orang lain atau perbuatan tidak mampu membayar hutang kepada pihak kreditur. Risiko tanggung jawab terhadap pihak ketiga inilah yang dialihkan kepada penanggung. Dalam bahasa inggris, tanggung jawab ini disebut third party lialibility. Dalam kenyataannya, bentuk asuransi yang menanggung kerugian yang timbul dari tanggung jawab tertanggung terhadap pihak ketiga diperlukan sekali.


DAFTAR PUSTAKA



1. Budisantoso, Totok & Triandaru, Sigit, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta, 2006.

2. Sawitri, Peni & Eko Hartanto, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Universitas Gunadarma, Jakarta 2007.

3. Salim, A. Abas, Dasar-dasar Asuransi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.


1 komentar:

crisismaven mengatakan...

As I see you are mentioning statistical research: I have put one of the most comprehensive link lists for hundreds of thousands of statistical sources and indicators on my blog: Statistics Reference List. And what I find most fascinating is how data can be visualised nowadays with the graphical computing power of modern PCs, as in many of the dozens of examples in these Data Visualisation References. If you miss anything that I might be able to find for you or if you yourself want to share a resource, please leave a comment.

Poskan Komentar