Rabu, 03 Maret 2010

SEJARAH PEREMPUAN DALAM MEWUJUDKAN HAK-HAK NYA.

Pasal 28C ayat 1 dan 2

(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. **)

(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. **)

contoh kasus :

Jaman dahulu, perempuan Indonesia benar-benar tidak diberi kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Apalagi Indonesia mempunyai sistem adat patriaki yang sangat menguntungkan pihak laki-laki. Mereka yang dianggap lebih kuat, jelas diberikan hak dan kesempatan untuk berkembang lebih luas. Sedangkan perempuan pada jaman itu sudah dipastikan tidak lebih dari sekedar “hiasan” dan hanya bisa pasrah dinikahkan dalam usia yang masih sangat muda. Tidak ada istilah kebebasan dan persamaan derajat bagi perempuan.

Bahkan, seorang ningrat seperti Kartini pun hanya menikmati pendidikan hingga SD. Setelah umurnya 12 tahun, dia dipingit dan dipersiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga. Tapi Kartini hanyalah satu gambaran perempuan yang lebih beruntung dibandingkan dengan anak perempuan lain pada jamannya yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menikmati bangkus sekolah.

Because school was a privilege for the riches, not for a common people.

Perempuan selalu dikekang dan hanya boleh berada di dalam rumah dan melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai persiapan pernikahan. Semua serba tabu untuk perempuan jaman itu. Pulang malam atau duduk terlalu dekat dengan lelaki juga dibilang tabu dan melanggar adat istiadat.

Semua akses untuk perempuan serba terbatas, akses untuk pendidikan atau bersosialisasi dibatasi oleh adat dan juga norma. Jangankan menjadi presiden, untuk menjadi seorang guru saja sangat sulit.

Tokoh-tokoh perjuangan seperti Cut Nyak Dien, cut Meutia atau Dewi Sartika (yang mendobrak semua streotip perempuan lemah dan tidak bisa memimpin), belum mampu menginspirasi perempuan di jaman mereka untuk berkembang. Tetapi tetap saja, saai itu gambaran wanita Indonesia secara keseluruhan masih sangat memperihatinkan.


0 komentar:

Poskan Komentar