Minggu, 10 April 2011

Karya Tulis Merupakan Hasil Penalaran Penulisnya





Beberapa pengertian penalaran:

Penalaran menurut Anton M. Moeliono (1989), penalaran adalah pengambilan simpulan (conclusion, inference) dari bahan bukti atau petunjuk (evidence).

Penalaran menurut Widjono Hs penalaran merupakan:

(1) Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan,

(2) menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan,

(3) Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru,

(4) Dalam karangan terdiri dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menghasilkan dengan menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat dan simpulan,

(5) Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.

Dari pengertian diatas saya sangat setuju bahwa sebuah karya tulis merupakan hasil penalaran dari sang penulisnya. Karena dalam sebuah karya kecermatan dari penalaran seorang penulislah yang nantinya akan menghasilkan sebuah makna yang nantinya dapat dimengerti oleh si pembaca. Karya tulis sangatlah menuntut kecermatan bahasa karena karya tersebut harus disebarluaskan kepada pihak yang secara tidak lansung berhadapan dengan penulis baik pada saat penulisan diterbitkan.

Kegiatan berpikir diwujudkan dalam tiga tindak penalaran, yakni tindak pemahaman sederhana, penyusunan afirmasi/negasi, dan penyusunan simpulan. Tindak penyusunan simpulan merupakan tindak penalaran yang didasarkan kebenaran yang telah diketahui sebelumnya (lama) untuk memperoleh pengetahuan baru (Sulivan, 1963). Berdasarkan pandangan itu, dapat dikatakan bahwa bahasa lisan atau tulis merupakan wahana untuk mewadahi penalaran penuturnya. Dengan demikian, karya tulis dapat digunakan sebagai wahana untuk melihat penalaran penuturnya.

Contohnya saja novel trilogi yang ditulis oleh Dave Pelzer, A Child Call “it” , A Man Named Dave dan The Lost Boy. Ringkasnya rangkaian trilogi Dave Pelzer ini mengisahan tentang kesepian, keterasingan, kesendirian seorang anak manusia dalam ruang yang bernama penjara atas kemanusiaan manusia. Dari ketiga buku ini dapat dilihat kecermatan Dave dalam menceritakan kisah nyata hidupnya secara berani tanpa ada yang ditutup-tutupi. Kejujuran yang dikisahkan Dave Pelzer patut kita hargai. Ia mengetengahkan tentang moralitas keluarga. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah teguran kepada manusia yang disebut sebagai orang tua.


0 komentar:

Poskan Komentar